Di Ponpes Ini, Setiap Tarawih Tamatkan 1 Juz Alquran
Kamis, 18 Juli 2013 16:20 wib
Pesawat didirikan pada 1979 oleh KH Chasan Tholabi. Lokasinya di Desa Driyan, Wates. Pada 1994, lokasi ponpes dipindahkan ke Kedungpring, Giripeni, Wates, dan diasuh seorang putra Chasan bernama KH Achmad Su’adi.
Mulai tahun lalu, Pesawat menambah unit sekolahnya dengan kehadiran SMP VIP. Pada tahun pertama ada 40 siswa yang mendaftar. Mereka dibagi menjadi dua kelas, yakni putra dan putri. Sebagaimana pesantren, seluruh siswa wajib tinggal di asrama. Dengan kehadiran siswa SMP tersebut, total santri di Pesawat menjadi 200 orang.
Kehadiran para siswa SMP itulah yang menjadikan suasana Ramadan tahun ini berbeda. Setiap malam, 200 santri melaksanakan Salat Tarawih, tadarus, hingga mengkaji kitab.
Keistimewaan Salat Tarawih di Pesawat, setiap malamnya imam menamatkan satu juz Alquran. Imam melafalkan satu juz dalam 20 rakaat Salat Tarawih. Sehingga di akhir Ramadan, Salat Tarawih bisa mengkhatamkan Alquran sebagaimana dilaksanakan di Masjidil Haram, Makkah.
“Ini menjadi tradisi kami mengikuti petunjuk kiai-kiai terdahulu,” jelas Ahmad Su’adi, Kamis (18/7/2013).
Ia menjelaskan, tradisi tersebut merupakan salah satu upaya untuk memotivasi para santri agar lebih giat dan tekun menghafal Alquran.
Semua santri dididik agar mampu menghafal Alquran. Selama Ramadan, setiap santri belajar dan menghafal Alquran minimal sembilan jam.
Kegiatan menghafal Alquran dimulai usai Salat Subuh. Setelah itu, dilanjutkan dengan pengajian hingga menjelang waktu masuk sekolah. Belajar Alquran dilanjutkan siang selepas Dhuhur hingga Asar. Di malam hari selepas Salat Tarawih menghafal Alquran dilanjutkan kembali.
“Hafalan sengaja kami lakukan mulai Subuh agar lebih mudah diingat dan otak masih bersih,” tandasnya.
Di Pesawat, santri diberikan kebebasan untuk membayar seusai kemampuan. Namun bagi yang mampu, harus membayar Rp250 ribu per bulan. Meski begitu ada yang hanya membayar Rp15 ribu. Jumlah itu sudah termasuk biaya asrama dan makan selama sebulan.
“Sekolah ini kami dirikan karena keprihatinan akan kasus anak jalanan dan kemaksiatan,” jelasnya.
Setiap malam Jumat legi, seluruh orang tua dan wali wajib datang untuk melakukan doa bersama. Namun bagi orang tua di luar daerah, setidaknya tiga kali harus datang.
Salah seorang guru ponpes, Sunyoto, mengatakan, Pesawat dilengkapi juga dengan laboratorium komputer. Selain sisi keagamaan, para siswa harus menguasai teknologi informasi.
0 komentar:
Posting Komentar